|
1.
|
Apa itu KITE Pembebasan?
|
|
|
Pembebasan bea masuk dan tidak dipungut PPN atau PPN dan PPnBM atas impor barang berupa bahan baku untuk diolah, dirakit, atau dipasang dengan tujuan diekspor.
(Sesuai dengan PMK-149/PMK.04/2022 & PER-08/BC/2022)
|
|
2.
|
Siapa yang dapat memperoleh KITE Pembebasan?
|
|
|
Perusahaan manufaktur yang melakukan ekspor atas hasil produksinya yang telah mendapat surat keputusan penetapan sebagai perusahaan KITE Pembebasan (SKEP Penetapan).
(Sesuai dengan PMK-149/PMK.04/2022 & PER-08/BC/2022)
|
|
3.
|
Barang apa saja yang dapat diimpor dengan mendapat fasilitas KITE Pembebasan?
|
|
|
Bahan baku termasuk bahan penolong dan pengemas sesuai dengan yang telah ditetapkan pada lampiran SKEP Penetapan.
(Sesuai dengan PMK-149/PMK.04/2022 & PER-08/BC/2022)
|
|
4.
|
Bagaimana kalau perusahaan KITE Pembebasan memiliki lebih dari satu lokasi usaha?
|
|
|
Pengajuan permohonan SKEP penetapan ditujukan kepada Kantor Wilayah DJBC yang mengawasi lokasi dengan volume kegiatan tertinggi. SKEP penetapan berlaku secara nasional sehingga tidak perlu mengajukan SKEP penetapan ke Kantor Wilayah yang lain.
(Sesuai dengan PMK-149/PMK.04/2022 & PER-08/BC/2022)
|
|
5.
|
Kapan IT Inventory dan CCTV sudah dimiliki oleh perusahaan KITE Pembebasan?
|
|
|
IT Inventory dan CCTV harus sesuai dengan ketentuan PMK 149/PMK.04/2022 dan harus dimiliki pada saat mengajukan permohonan penetapan. IT Inventory dan CCTV harus didayagunakan paling lambat sejak ditetapkan sebagai Perusahaan KITE Pembebasan.
(Sesuai dengan PMK-149/PMK.04/2022 & PER-08/BC/2022)
|
|
6.
|
Apakah impor atau ekspor fasilitas KITE Pembebasan hanya dapat dilakukan melalui satu pelabuhan tertentu?
|
|
|
Tidak, impor atau ekspor dapat dilakukan pada pelabuhan yang terdapat kantor pabean di seluruh Indonesia dengan memenuhi ketentuan pengisian dokumen sesuai dengan Peraturan Direktur Jenderal nomor PER-08/BC/2022.
(Sesuai dengan PMK-149/PMK.04/2022 & PER-08/BC/2022)
|
|
7.
|
Apakah barang yang mendapat fasilitas KITE Pembebasan dapat diimpor atau dimasukkan langsung ke perusahaan subkontrak?
|
|
|
Boleh, dengan harus mengajukan izin kepada Kepala Kantor Wilayah yang menerbitkan SKEP Penetapan dengan jangka waktu tertentu ditentukan oleh Kepala Kantor.
(Sesuai dengan PMK-149/PMK.04/2022 & PER-08/BC/2022)
|
|
8.
|
Hal apa saja yang harus diperhatikan oleh perusahaan penerima fasilitas KITE Pembebasan pada saat mensubkontrakkan kegiatan olah, rakit, pasang?
|
|
|
Hal yang harus diperhatikan antara lain adalah:
- Perusahaan subkontrak sudah tercantum pada SKEP
- Tidak mensubkontrakkan seluruh tahapan dan atau kegiatan olah rakit pasang dari bahan baku menjadi hasil produksi kepada satu perusahaan subkontrak
- Membuat dokumen internal subkontrak sesuai dengan ketentuan pada PMK 149/PMK.04/2022
- Mencatat kegiatan subkontrak pada IT Inventory
- Seluruh waste/scrap, barang rusak, dan hasil produksi dikembalikan kepada Perusahaan KITE Pembebasan.
(Sesuai dengan PMK-149/PMK.04/2022 & PER-08/BC/2022)
|
|
9.
|
Apakah bisa dilakukan ekspor dari perusahaan penerima fasilitas KITE Pembebasan ke Pusat Logistik Berikat (PLB)?
|
|
|
Ekspor harus dilakukan ke luar daerah pabean. Namun, diperbolehkan untuk ekspor melalui PLB. Ekspor dapat diakui setelah barang ke luar daerah pabean.
(Sesuai dengan PMK-149/PMK.04/2022 & PER-08/BC/2022)
|
|
10.
|
Apakah hasil produksi perusahaan penerima fasilitas KITE Pembebasan dapat disimpan pada PLB?
|
|
|
Boleh, dengan mencantumkan Gudang PLB pada SKEP Keputusan sebagai tempat penyimpanan, tetapi atas penyimpanan pada PLB belum dapat diakui sebagai ekspor atau penyelesaian atas barang yang mendapat fasilitas KITE Pembebasan.
(Sesuai dengan PMK-149/PMK.04/2022 & PER-08/BC/2022)
|
|
11.
|
Apa kewajiban perusahaan penerima fasilitas KITE Pembebasan setelah melakukan ekspor dan/atau penyelesaian lain?
|
|
|
Menyampaikan laporan pertanggungjawaban sebagai pembuktian bahwa telah melakukan penyelesaian atas barang yang mendapat fasilitas KITE Pembebasan.
(Sesuai dengan PMK-149/PMK.04/2022 & PER-08/BC/2022)
|
|
12.
|
Bagaimana laporan pertanggungjawaban realisasi ekspor fasilitas KITE Pembebasan disampaikan?
|
|
|
Laporan pertanggungjawaban disampaikan melalui portal pengguna jasa pada CEISA 4.0, dengan membuat laporan keterkaitan antara PIB dan PEB pada web dimaksud atau melakukan upload excel sesuai dengan format yang telah ditentukan.
(Sesuai dengan PMK-149/PMK.04/2022 & PER-08/BC/2022)
|
|
13.
|
Apakah yang dimaksud dengan Periode KITE Pembebasan?
|
|
|
Periode KITE Pembebasan merupakan periode yang diberikan kepada Perusahaan KITE Pembebasan untuk melaksanakan realisasi ekspor, penyerahan Hasil Produksi, atau penyelesaian Barang dan Bahan terhitung sejak tanggal pendaftaran pemberitahuan pabean impor dan/atau pemberitahuan pabean untuk pemasukan.
(Sesuai dengan PMK-149/PMK.04/2022 & PER-08/BC/2022)
|
|
14.
|
Berapa jangka waktu Periode KITE Pembebasan?
|
|
|
Periode KITE Pembebasan diberikan untuk jangka waktu:
- paling lama 12 (dua belas) bulan: atau
- lebih dari 12 (dua belas) bulan, apabila Perusahaan KITE Pembebasan memiliki masa produksi lebih dari 12 (dua belas) bulan.
(Sesuai dengan PMK-149/PMK.04/2022 & PER-08/BC/2022)
|
|
15.
|
Apakah Periode KITE Pembebasan dapat diperpanjang? Dalam hal apa?
|
|
|
Periode KITE Pembebasan dapat diperpanjang dengan Keputusan Kepala Kantor Wilayah atau Kepala KPU, dalam hal:
- penundaan ekspor dari pembeli:
- pembatalan ekspor atau penggantian pembeli;
- sisa Barang dan Bahan karena adanya batasan minimal pembelian, sehingga belum dapat diproduksi sampai dengan periode KITE Pembebasan berakhir;
- kondisi kahar (force majeure), dan/atau
- kondisi lain yang mengakibatkan diperlukannya perpanjangan periode KITE Pembebasan berdasarkan manajemen risiko dan pertimbangan Kepala Kantor Wilayah atau Kepala KPU.
(Sesuai dengan PMK-149/PMK.04/2022 & PER-08/BC/2022)
|
|
16.
|
Dalam hal barang telah melebihi Periode KITE Pembebasan, apakah masih dapat disampaikan laporan?
|
|
|
Tidak, atas barang tersebut akan diterbitkan Surat Penetapan Pabean (SPP) yang harus dilunasi dan fasilitas KITE Pembebasan akan dibekukan.
(Sesuai dengan PMK-149/PMK.04/2022 & PER-08/BC/2022)
|
|
17.
|
Bagaimana caranya agar dapat ditetapkan sebagai Perusahaan KITE Pembebasan?
|
|
|
Mengajukan permohonan kepada Menteri Keuangan melalui Kepala Kantor Wilayah yang mengawasi lokasi usaha. Pengajuan permohonan dilakukan melalui sistem aplikasi perizinan DJBC. Dalam hal sistem aplikasi perizinan DJBC belum beroperasi, permohonan disampaikan melalui INSW. Perusahaan harus memenuhi kriteria dan persyaratan sebagaimana dimaksud dalam PMK 149/PMK.04/2022.
(Sesuai dengan PMK-149/PMK.04/2022 & PER-08/BC/2022)
|
|
18.
|
Berapa jangka waktu untuk perusahaan penerima fasilitas KITE Pembebasan melaksanakan ekspor hasil produksi?
|
|
|
Jangka waktu yang diberikan adalah:
- paling lama 12 (dua belas) bulan: atau
- lebih dari 12 (dua belas) bulan, apabila Perusahaan KITE Pembebasan memiliki masa produksi lebih dari 12 (dua belas) bulan,
terhitung sejak tanggal pendaftaran pemberitahuan pabean impor dan/atau pemberitahuan pabean untuk pemasukan.
(Sesuai dengan PMK-149/PMK.04/2022 & PER-08/BC/2022)
|
|
19.
|
Apa yang dimaksud jaminan dalam KITE Pembebasan?
|
|
|
Perusahaan wajib menyerahkan jaminan paling sedikit sebesar Bea Masuk serta PPN atau PPN dan PPnBM atas Barang dan Bahan sebagaimana diberitahukan dalam pemberitahuan pabean impor dan/atau pemberitahuan pabean untuk pemasukan.
Jaminan diajukan kepada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai pada saat pemberitahuan pabean diajukan.
Jaminan wajib memiliki jangka waktu berlaku paling singkat selama penjumlahan:
- periode KITE Pembebasan (12 bulan); dan
- waktu penyampaian dan penelitian laporan pertanggungjawaban (60 hari).
(Sesuai dengan PMK-149/PMK.04/2022 & PER-08/BC/2022)
|
|
20.
|
Bentuk jaminan apa saja yang dapat diserahkan terkait fasilitas KITE Pembebasan?
|
|
|
Perusahaan KITE Pembebasan dapat menyerahkan jaminan dalam bentuk:
- jaminan tunai;
- jaminan bank;
- jaminan dari perusahaan asuransi berupa customs bond;
- jaminan Indonesia EximBank (Jaminan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia);
- jaminan perusahaan penjaminan; atau
- jaminan perusahaan (corporate guarantee).
Jaminan perusahaan (corporate guarantee) dapat digunakan setelah mendapat keputusan pemberian izin penggunaan Jaminan perusahaan (corporate guarantee). Untuk mendapatkan izin penggunaan jaminan perusahaan (corporate guarantee), Perusahaan KITE Pembebasan menyerahkan jaminan perusahaan (corporate guarantee) dan mengajukan permohonan kepada Menteri u.p. Direktur Jenderal, dengan syarat Perusahaan KITE Pembebasan harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
- memiliki kategori risiko rendah; dan
- memiliki kondisi keuangan yang baik, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai Jaminan dalam rangka kepabeanan.
(Sesuai dengan PMK-149/PMK.04/2022 & PER-08/BC/2022)
|
|
21.
|
Bagaimana perlakuan sisa proses produksi (scrap/waste) yang mendapat fasilitas KITE Pembebasan?
|
|
|
Atas sisa proses produksi (scrap/waste) yang mendapat fasilitas KITE Pembebasan dapat diselesaikan dengan cara:
- dimusnahkan; dan/atau
- dijual.
Penyelesaian tersebut dilakukan dengan mengajukan pemberitahuan pabean untuk penyelesaian barang asal impor yang mendapat kemudahan impor tujuan ekspor kepada Kepala Kantor Pabean yang mengawasi lokasi pabrik atau kegiatan usaha.
Terhadap penyelesaian sisa proses produksi (scrap/waste) dengan cara dijual, Perusahaan KITE Pembebasan:
- melunasi Bea Masuk sebesar 5% (lima persen) dikalikan harga jual;
- melunasi PPN atau PPN dan PPnBM atas Barang dan Bahan yang pada saat impor atau pemasukan mendapatkan fasilitas KITE Pembebasan; dan
- membuat faktur pajak dan memungut PPN atau PPN dan PPnBM, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan.
(Sesuai dengan PMK-149/PMK.04/2022 & PER-08/BC/2022)
|
|
22.
|
Dalam hal apa fasilitas KITE Pembebasan dapat dibekukan?
|
|
|
Kepala Kantor Wilayah atau Kepala KPU yang menerbitkan Keputusan Menteri mengenai penetapan sebagai Perusahaan KITE Pembebasan melakukan pembekuan terhadap fasilitas KITE Pembebasan dalam hal Perusahaan KITE Pembebasan:
- tidak melakukan kegiatan impor dan/atau pemasukan Barang dan Bahan dengan menggunakan fasilitas KITE Pembebasan selama periode 1 (satu) tahun;
- ditemukan data yang tidak sesuai pada Keputusan Menteri mengenai penetapan sebagai Perusahaan KITE Pembebasan;
- tidak memenuhi ketentuan pembongkaran dan/atau penyimpanan Barang dan Bahan serta Hasil Produksi, paling lama 6 (enam) bulan berdasarkan pertimbangan manajemen risiko Kepala Kantor Wilayah atau Kepala KPU;
- tidak memenuhi ketentuan subkontrak, paling lama 6 (enam) bulan berdasarkan pertimbangan manajemen risiko kepala Kantor Wilayah atau Kepala KPU;
- tidak menyampaikan laporan pertanggungjawaban dalam waktu 60 (enam puluh) hari setelah Periode KITE Pembebasan berakhir;
- tidak bersedia dilakukan monitoring dan/atau evaluasi;
- tidak menyerahkan dokumen dan/atau data yang diperlukan dalam pelaksanaan monitoring dan/atau evaluasi;
- tidak memasang papan nama;
- tidak melakukan penatausahaan barang asal fasilitas KITE Pembebasan;
- tidak menyerahkan laporan;
- tidak mendayagunakan sistem informasi persediaan berbasis komputer (IT Inventory);
(Sesuai dengan PMK-149/PMK.04/2022 & PER-08/BC/2022)
|
|
23.
|
Apa dampaknya jika fasilitas KITE Pembebasan dibekukan?
|
|
|
Perusahaan tidak dapat melakukan impor dan/atau pemasukan dengan menggunakan fasilitas KITE Pembebasan, namun masih dapat melakukan ekspor dan kegiatan kepabeanan lainnya.
(Sesuai dengan PMK-149/PMK.04/2022 & PER-08/BC/2022)
|
|
24.
|
Kapan pembekuan fasilitas KITE Pembebasan dapat dibuka?
|
|
|
Setelah perusahaan melakukan pembayaran SPP dan memenuhi ketentuan lain apabila dibekukan dengan alasan yang lain.
(Sesuai dengan PMK-149/PMK.04/2022 & PER-08/BC/2022)
|
|
25.
|
Dalam hal apa fasilitas KITE Pembebasan dapat dicabut?
|
|
|
Kepala Kantor Wilayah atau Kepala KPU yang menerbitkan Keputusan Menteri mengenai penetapan sebagai Perusahaan KITE Pembebasan atas nama Menteri melakukan pencabutan fasilitas KITE Pembebasan dalam hal Perusahaan KITE Pembebasan:
- tidak melakukan impor atau pemasukan dengan menggunakan fasilitas KITE Pembebasan:
- dalam waktu 1 (satu) tahun sejak dibekukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1), dalam hal tidak terdapat saldo Barang dan Bahan yang masih dalam periode KITE Pembebasan atau perpanjangan periode KITE Pembebasan; atau
- dalam waktu 2 (dua) tahun sejak dibekukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1), dalam hal terdapat perpanjangan periode KITE Pembebasan yang berakhir melebihi jangka waktu 1 (satu) tahun sejak dibekukan;
- tidak mengajukan permohonan dan/atau pemberitahuan perubahan data kepada Kepala Kantor Wilayah atau Kepala KPU dalam waktu paling lambat 60 (enam puluh) hari sejak tanggal fasilitas KITE Pembebasan dibekukan;
- diterbitkan surat paksa karena ada tagihan yang tidak dilunasi;
- terbukti telah melakukan tindak pidana di bidang kepabeanan dan/atau perpajakan berdasarkan putusan pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap;
- berubah status menjadi pengusaha Kawasan Berikat atau pengusaha di Kawasan Berikat, setelah laporan pertanggungjawaban atas penyelesaian Barang dan Bahan mendapatkan putusan;
- dinyatakan pailit berdasarkan putusan pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap;
- tidak lagi memenuhi kriteria untuk memperoleh fasilitas KITE Pembebasan;
- tidak memenuhi ketentuan sebagai Perusahaan KITE Pembebasan berdasarkan hasil monitoring, evaluasi dan/atau audit kepabeanan seperti terbukti melakukan penyalahgunaan fasilitas; dan/atau
- mengajukan permohonan untuk dilakukan pencabutan fasilitas KITE Pembebasan.
(Sesuai dengan PMK-149/PMK.04/2022 & PER-08/BC/2022)
|
|
26.
|
Apa yang harus dilakukan perusahaan penerima fasilitas KITE Pembebasan apabila diminta konfirmasi laporan pertanggungjawaban oleh Kantor Wilayah?
|
|
|
Memberikan penjelasan disertai dengan bukti pendukung dan mengupload dokumen terkait pada portal pengguna jasa.
(Sesuai dengan PMK-149/PMK.04/2022 & PER-08/BC/2022)
|
|
27.
|
Bagaimana pengisian bentuk waste/scrap pada laporan pertanggungjawaban fasilitas KITE Pembebasan jika tidak ada waste/scrap?
|
|
|
Tetap diisi "tidak berwujud" agar tidak ditolak pada saat validasi.
(Sesuai dengan PMK-149/PMK.04/2022 & PER-08/BC/2022)
|
|
28.
|
Bagaimana jika laporan pertanggungjawaban fasilitas KITE Pembebasan ditolak?
|
|
|
Berdasarkan jenis alasan penolakannya dapat dilakukan tindak lanjut antara lain; melakukan pembayaran atas tagihan, atau menyampaikan kembali laporan pertanggungjawaban dengan melakukan perbaikan terlebih dahulu.
(Sesuai dengan PMK-149/PMK.04/2022 & PER-08/BC/2022)
|
|
29.
|
Apakah Perusahaan Penerima Fasilitas KITE yang telah dilakukan pencabutan dapat mengajukan lagi?
|
|
|
Dalam hal pencabutan karena perusahaan atau penanggungjawab perusahaan terbukti melakukan tindak pidana yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap atau telah dinyatakan pailit, maka tidak dapat diberikan fasilitas KITE selama 10 (sepuluh) tahun terhitung sejak selesai menjalani hukuman pidana dan/atau [penetapan pailit. Jadi pencabutan selain karena 2 hal di atas, dapat diajukan permohonan penetapan sebagai perusahaa KITE.
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PMK-149/PMK.04/2022)
|
|
30.
|
Apakah SKEP Penetapan Perusahaan KITE ada masa berlakunya?
|
|
|
SKEP Penetapan Penerima Fasilitas KITE berlaku sampai dengan perusahaan tidak lagi memanfaatkan fasilitas KITE ataupun dilakukan pencabutan.
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PMK-149/PMK.04/2022)
|
|
31.
|
Terkait dengan ketentuan baru yaitu kewajiban pemasangan CCTV Perusahaan KITE, apakah ada guidance untuk titik pemasangan atau area mana saja yang diwajibkan?
|
|
|
Pada intinya semua badan usaha industri manufaktur yang hasil produksinya untuk ekspor dapat memanfaatkan fasilitas KITE sepanjang memenuhi ketentuan yang dipersyaratkan dalam PMK-149/PMK.04/2022 untuk KITE Pembebasan dan PMK-145/BC/2022 untuk KITE Pengembalian.
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PMK-149/PMK.04/2022)
|
|
32.
|
Apakah perusahaan dapat memilih Kantor Wilayah atau KPU tertentu sebagai Kantor Wilayah atau KPU penerbit SKEP Penetapan Perusahaan KITE?
|
|
|
Pada intinya semua badan usaha industri manufaktur yang hasil produksinya untuk ekspor dapat memanfaatkan fasilitas KITE sepanjang memenuhi ketentuan yang dipersyaratkan dalam PMK-149/PMK.04/2022 untuk KITE Pembebasan dan PMK-145/BC/2022 untuk KITE Pengembalian.
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PMK-149/PMK.04/2022)
|
|
33.
|
Apakah perusahaan dapat memilih Kantor Wilayah atau KPU tertentu sebagai Kantor Wilayah atau KPU penerbit SKEP Penetapan Perusahaan KITE?
|
|
|
Perusahaan tidak dapat memilih Kantor Wilayah atau KPU tertentu. Kantor Wilayah atau KPU penerbit SKEP Penetapan Perusahaan KITE adalah Kantor Wilayah atau KPU di mana lokasi pabrik berada. Jika perusahaan memiliki lebih dari 1 (satu) lokasi pabrik yang tidak berlokasi dalam 1 (satu) Kantor Wilayah atau KPU maka permohonan ditujukan kepada Kantor Wilayah atau KPU terdekat dari lokasi pabrik dengan volume importasi terbesar.
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PMK-149/PMK.04/2022)
|
|
34.
|
Dalam aturan terbaru disebutkan bahwa "tidak ada konversi", maksudnya apakah Perusahaan KITE tidak perlu mendaftarkan/register konversi lagi ke portal kite kedepannya?
|
|
|
Dalam PMK-149/PMK.04/2022 untuk KITE Pembebasan dan PMK-145/BC/2022 untuk KITE Pengembalian, konversi tidak lagi disampaikan sebelum proses produksi, namun konversi saat ini disampaikan secara satu kesatuan dalam laporan pertanggungjawaban (BCL.KT 01) atau permohonan pengembalian (BCL.KT 02).
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PMK-149/PMK.04/2022)
|
|
35.
|
Apakah perusahaan dapat mengimpor dengan memanfaatkan fasilitas KITE untuk semua jenis barang?
|
|
|
Perusahaan hanya dapat mengimpor sesuai dengan Kode HS (Harmonized System) yang tercantum dalam SKEP Penetapan KITE. Jika perusahaan ingin mengimpor dengan menggunakan fasilitas KITE tetapi barangnya belum tercantum dalam SKEP Penetapan, maka perlu diajukan perubahan SKEP terlebih dahulu kepada Kantor Wilayah atau KPU penerbit SKEP Penetapan KITE. Melakukan impor di luar Kode HS yang tercantum dalam SKEP Penetapan KITE mengakibatkan dokumen pabean impor ditolak (reject).
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PMK-149/PMK.04/2022)
|
|
36.
|
Dalam peraturan terbaru, terdapat kewajiban bahwa daftar Barang dan Bahan paling sedikit memuat deskripsi 8 (delapan) digit Harmonized System Code (kode HS), jika dalam SKEP KITE saat ini masih terdapat Barang dan Bahan dengan kode HS 6 digit, apakah perlu mengajukan perubahan SKEP Kembali?
|
|
|
Sesuai dengan Pasal 3 PMK-149/PMK.04/2022 untuk KITE Pembebasan dan Pasal 3 PMK-145/BC/2022, Barang dan Bahan yang terdaftar sebagai bahan baku yang diimpor menggunakan fasilitas KITE harus memuat paling sedikit deskripsi 8 (delapan) digit Harmonized System Code (kode HS). Jika dalam SKEP Perusahaan KITE masih terdapat Barang dan Bahan dengan deskripsi 6 (enam) digit kode HS atau Barang dan Bahan yang belum terdapat di dalam SKEP KITE, maka Perusahaan KITE wajib mengajukan perubahan SKEP KITE ke Kantor Wilayah DJBC melalui SKP.
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PMK-149/PMK.04/2022)
|
|
37.
|
Bagaimana cara pengisian nomor dan tanggal Surat Keputusan Penetapan sebagai Perusahaan KITE pada dokumen PEB?
|
|
|
Nomor dan tanggal Surat Keputusan Penetapan sebagai Perusahaan KITE dapat dituliskan pada kolom NIPER dan lembar lanjutan dokumen pabean.
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PMK-149/PMK.04/2022)
|
|
38.
|
Apakah setelah perusahaan melakukan loading BCL.KT melalui Portal KITE tetap berkewajiban untuk menyerahkan hardcopy? Bagaimana penyerahan surat permohonan pengembalian Perusahaan KITE Pengembalian.
|
|
|
Tidak perlu menyampaikan hardcopy apabila sudah tersedia atau diunggah melalui Portal KITE. Semua dokumen permohonan (berlaku juga untuk surat permohonan pengembalian Bea Masuk) Perusahaan KITE disampaikan melalui Portal KITE. Dasar hukum: Pasal 21 PMK 145/PMK.04/2022 dan Pasal 29 PMK 149/PMK.04/2022
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PMK-149/PMK.04/2022)
|
|
39.
|
Untuk Kapasitas data menggunakan format excel pada BCL.KT KITE maksimal berapa megabyte?
|
|
|
Dalam pengajuan BCLKT melalui Portal KITE Online, tidak ada batasan besaran file laporan pertanggungjawaban atau permohonan pengembalian.
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PMK-149/PMK.04/2022)
|
|
40.
|
Untuk Perusahaan KITE yang melakukan ekspor melalui PLB, apakah berarti sudah dianggap ekspor dan sudah BCLKT?
|
|
|
Untuk ekspor melalui PLB, dapat diajukan dalam laporan pertanggungjawaban dan permohonan pengembalian Bea Masuk dalam hal:
- Hasil Produksi telah dikeluarkan dari Pusat Logistik Berikat ke pelabuhan muat untuk diekspor; dan
- laporan hasil penelitian rekonsiliasi ekspor telah diterbitkan.
Dasar Hukum:Pasal 17 PMK 145/PMK.04/2022 dan Pasal 19 PMK 149/PMK.04/2022
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PMK-149/PMK.04/2022)
|
|
41.
|
Jika bahan baku KITE impornya diberikan oleh buyer secara gratis dan nilai bahan baku tidak dihitung menjadi HPP, sehingga saat diekspor nilai lebih rendah, bagaimana?
|
|
|
Sesuai dengan Pasal 21 PMK 145/PMK.04/2022 dan Pasal 29 PMK 149/PMK.04/2022 terdapat persyaratan dalam BCLKT yang diajukan Perusahaan KITE yaitu terdapat nilai tambah atas Hasil Produksi dengan membandingkan nilai ekspor Hasil Produksi dan nilai impor Barang dan Bahan yang digunakan. Jika tidak terdapat nilai tambah saat penelitian BCLKT oleh Kantor Wilayah DJBC, Perusahaan KITE akan diminta bukti berupa data pendukung yang menunjukkan adanya kondisi yang menyebabkan nilai ekspor lebih kecil dibanding nilai impor.
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PMK-149/PMK.04/2022)
|
|
42.
|
Bagaimana cara untuk mengetahui bahwa atas PEB KITE sudah terbit LHPRE sehingga dapat diajukan BCL.KT?
|
|
|
Dapat dilihat pada Portal KITE melalui menu browse PEB.
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PMK-149/PMK.04/2022)
|
|
43.
|
Apakah skema VD/VP (Voluntary Declaration/Voluntary Payment) bisa dipakai jika barang import dengan fasilitas KITE, ternyata digunakan untuk produksi pasar domestik jika memang pasar ekspor turun/buyer menurunkan quantity order-nya? Dibandingkan jika harus dimusnahkan atau diekspor kembali.
|
|
|
Tidak bisa. VD/VP dapat digunakan dalam hal terdapat insiatif dari Perusahaan KITE untuk penambahan nilai transaksi, perubahan nilai pabean dan tarif (klasifikasi) dan juga dapat dilakukan inisatif secara terbatas untuk perubahan jumlah impor barang dan bahan. Namun dalam VD/VP tidak diatur untuk inisaitif perubahan tujuan fasilitas.
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PMK-149/PMK.04/2022)
|
|
44.
|
Apakah pemegang KITE Pengembalian saat ini dapat memperoleh SKEP KITE Pembebasan?
Bila dibolehkan, apa produk olahan KITE Pengembalian menjadi KITE Pembebasan bisa dijual ke pemegang KITE Pembebasan lainnya?
|
|
|
Perusahaan KITE Pengembalian dapat mengajukan sebagai penerima fasilitas KITE Pembebasan dengan mengajukan ulang permohonan izin untuk penetapan sebagai Perusahaan KITE Pembebasan ke Kantor Wilayah DJBC.
Untuk impor/pemasukan yang menggunakan fasilitas KITE Pengembalian harus diselesaikan dengan ekspor ke Luar Daerah pabean atau melalui PLB dan dimintakan pengembalian dengan permohonan pengembalian Bea Masuk (BCL.KT 02), tidak bisa dlakukan penyelesaian menggunakan laporan pertanggungjawaban (BCL.KT 01).
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PMK-149/PMK.04/2022)
|
|
45.
|
Apakah peraturan KITE saat ini mengatur mengenai lartas untuk perusahaan KITE?
|
|
|
Peraturan KITE tidak mengatur mengenai lartas, ketentuan lartas mengikuti peraturan Kementerian Perdagangan.
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PMK-149/PMK.04/2022)
|
|
46.
|
Apa yang bisa dilakukan perusahaan jika terdapat kondisi yang menyebabkan perusahaan tidak bisa menyampaikan pertanggungjawaban?
Contoh: PEB diisi dengan kategori umum (bukan “yang pada saat impor mendapatkan fasilitas") atau Tidak mencantumkan SKEP pada Dokumen PEB
|
|
|
Perusahaan KITE dapat menggunakan tools monitoring mandiri sesuai dengan PER-02/BC/2019 tentang Monitoring dan Evaluasi Fasilitas TPB dan KITE. Namun, pada dasarnya Perusahaan KITE tidak akan mendapatkan fasilitas KITE atas Barang dan Bahan yang diolah, dirakit, dipasang yang kemudian diekspor tetapi tidak sesuai dengan ketentuan pemberian fasilitas KITE.
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PMK-149/PMK.04/2022)
- KITE Pengembalian
Pertanyaan yang sering ditanyakan mengenai kemudahan impor tujuan ekspor (KITE) pengembalian dan cukai antara lain:
|
1.
|
Apa yang dimaksud dengan kemudahan Impor Tujuan Ekspor Pengembalian (KITE Pengembalian)?
|
|
|
Kemudahan Impor Tujuan Ekspor Pengembalian (KITE Pengembalian) adalah pengembalian Bea Masuk yang telah dibayar atas impor atau pemasukan barang dan bahan untuk diolah, dirakit, atau dipasang pada barang lain dengan tujuan untuk diekspor.
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PER-09/BC/2022)
|
|
2.
|
Bagaimana caranya agar dapat ditetapkan sebagai Perusahaan KITE Pengembalian?
|
|
|
Mengajukan permohonan kepada Menteri Keuangan melalui Kepala Kantor Wilayah yang mengawasi lokasi usaha. Pengajuan permohonan dilakukan melalui sistem aplikasi perizinan DJBC. Dalam hal sistem aplikasi perizinan DJBC belum beroperasi, permohonan disampaikan melalui INSW. Perusahaan harus memenuhi kriteria dan persyaratan sebagaimana dimaksud dalam PMK 145/PMK.04/2022.
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PER-09/BC/2022)
|
|
3.
|
Apa saja kriteria dan persyaratan yang harus dipenuhi untuk dapat ditetapkan menjadi Perusahaan KITE Pengembalian?
|
|
|
Untuk dapat ditetapkan sebagai Perusahaan KITE Pengembalian, badan usaha harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
- memiliki jenis usaha industri manufaktur dan memiliki kegiatan pengolahan, perakitan, atau pemasangan;
- memiliki bukti kepemilikan atau bukti penguasaan yang berlaku untuk waktu paling singkat 3 (tiga) tahun atas lokasi yang akan digunakan untuk kegiatan produksi dan penyimpanan Barang dan Bahan serta Hasil Produksi sejak permohonan penetapan sebagai Perusahaan KITE Pengembalian diajukan;
- memiliki sistem pengendalian internal yang memadai;
- memiliki sistem informasi persediaan berbasis komputer (IT Inventory) untuk pengelolaan barang dengan ketentuan sebagai berikut:
- memiliki keterkaitan dengan dokumen kepabeanan;
- dapat diakses secara langsung dan daring (online) oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai;
- mampu mencatat pemasukan, pengeluaran, persediaan barang dalam proses, dan saldo barang, secara berkelanjutan, langsung, dan segera;
- memiliki sistem pelaporan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan yang mengatur mengenai sistem informasi persediaan berbasis komputer pada perusahaan yang mendapatkan fasilitas pengembalian;
- menggunakan kodifikasi dalam pencatatan barangnya; dan
- menggunakan master data yang sama dengan sistem pencatatan perusahaan; dan
- memiliki closed circuit television (CCTV) yang dapat diakses secara langsung dan daring (online) oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai untuk pengawasan pemasukan, penyimpanan, dan pengeluaran Barang dan Bahan serta Hasil Produksi.
Persyaratan yang harus dipenuhi untuk dapat ditetapkan sebagai Perusahaan KITE Pengembalian adalah sebagai berikut:
- memiliki perizinan berusaha yang berlaku untuk operasional dan/atau komersial sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang mengatur mengenai perizinan berusaha berbasis risiko; dan
- merupakan pengusaha kena pajak.
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PER-09/BC/2022)
|
|
4.
|
Berapa lama jangka waktu realisasi ekspor untuk barang yang diimpor menggunakan fasilitas KITE Pengembalian?
|
|
|
Perusahaan KITE Pengembalian diberikan jangka waktu:
- paling lama 12 (dua belas) bulan; atau
- lebih dari 12 (dua belas) bulan, apabila Perusahaan KITE Pengembalian memiliki masa produksi lebih dari 12 (dua belas) bulan,
untuk melaksanakan realisasi ekspor terhitung sejak tanggal pendaftaran pemberitahuan pabean impor dan/atau pemberitahuan pabean pemasukan.
Jangka waktu realisasi ekspor tersebut dapat diberikan perpanjangan lebih dari 1 (satu) kali oleh Kepala Kantor Wilayah atau Kepala KPU, dengan akumulasi jangka waktu perpanjangan paling lama 24 (dua puluh empat) bulan terhitung sejak berakhirnya jangka waktu realisasi ekspor.
Perpanjangan jangka waktu realisasi ekspor sebagaimana dimaksud dapat diberikan dalam hal terdapat:
- penundaan ekspor dari pembeli;
- pembatalan ekspor atau penggantian pembeli;
- sisa Barang dan Bahan karena adanya batasan minimal pembelian, sehingga belum dapat diprocluksi sampai clengan jangka waktu realisasi ekspor berakhir;
- kondisi kahar (force majeure); dan/atau
- kondisi lain yang mengakibatkan diperlukannya perpanjangan jangka waktu realisasi ekspor berdasarkan manajemen risiko dan pertimbangan Kepala Kantor Wilayah atau Kepala KPU.
Permohonan perpanjangan jangka waktu realisasi ekspor diajukan kepada Kepala Kantor Wilayah atau Kepala KPU yang menerbitkan Keputusan Menteri mengenai penetapan sebagai Perusahaan KITE Pengembalian sebelum berakhirnya jangka waktu realisasi ekspor.
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PER-09/BC/2022)
|
|
5.
|
Apa saja persyaratan untuk mengajukan pengembalian untuk perusahaan yang menerima fasilitas KITE Pengembalian?
|
|
|
Pengembalian Bea Masuk dapat diberikan sepanjang Hasil Produksi yang dimintakan pengembalian Bea Masuk yang secara nyata telah diekspor sebelum jangka waktu realisasi ekspor berakhir.
Untuk mendapatkan pengembalian Bea Masuk sebagaimana dimaksud, Perusahaan KITE Pengembalian harus mengajukan surat Permohonan Pengembalian Bea Masuk disertai Laporan penggunaan Barang dan Bahan yang dimintakan pengembalian Bea Masuk melalui SKP kepada Menteri melalui Kepala Kantor Wilayah atau Kepala KPU yang menerbitkan Keputusan Menteri mengenai penetapan sebagai Perusahaan KITE Pengembalian.
Permohonan pengembalian Bea Masuk sebagaimana dimaksud diajukan paling lambat 6 (enam) bulan terhitung sejak tanggal laporan hasil penelitian rekonsiliasi ekspor.
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PER-09/BC/2022)
|
|
6.
|
Apa saja ketentuan Laporan penggunaan Barang dan Bahan yang dimintakan pengembalian Bea Masuk untuk fasilitas KITE Pengembalian?
|
|
|
Laporan penggunaan Barang dan Bahan yang dimintakan pengembalian Bea Masuk harus memenuhi persyaratan dan ketentuan sebagai berikut:
- Laporan penggunaan Barang dan Bahan yang dimintakan pengembalian Bea Masuk paling sedikit memuat informasi mengenai:
- Hasil Produksi serta pemakaian Barang dan Bahan (konversi); dan
- sisa proses produksi (scrap/waste).
- Laporan penggunaan Barang dan Bahan yang dimintakan pengembalian Bea Masuk paling sedikit harus memenuhi ketentuan:
- kebenaran impor dan/atau pemasukan;
- kebenaran realisasi ekspor; dan
- Hasil Produksi memiliki nilai tambah.
- Laporan penggunaan Barang dan Bahan yang dimintakan pengembalian Bea Masuk dilengkapi dengan data pada:
- pemberitahuan pabean impor atau pemberitahuan pabean pemasukan yang telah mendapatkan persetujuan pengeluaran dari Pejabat Bea dan Cukai; dan
- pemberitahuan pabean ekspor berupa:
- pemberitahuan pabean ekspor; dan/atau
- pemberitahuan pabean ekspor melalui Pusat Logistik Berikat yang dilengkapi dengan dokumen pemberitahuan penggabungan dan/atau pemecahan barang ekspor dan/atau transhipment,
yang telah diterbitkan laporan hasil penelitian rekonsiliasi ekspor.
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PER-09/BC/2022)
|
|
7.
|
Dalam hal apa Fasilitas KITE Pengembalian dapat dibekukan?
|
|
|
Fasilitas / KITE Pengembalian dibekukan apabila Perusahaan KITE Pengembalian tidak memenuhi ketentuan pada PMK 145/PMK.04/2022, yaitu:
- ditemukan data yang tidak sesuai dengan data pada Keputusan Menteri mengenai penetapan sebagai Perusahaan KITE Pengembalian;
- tidak memenuhi ketentuan pembongkaran dan/atau penyimpanan Barang dan Bahan serta Hasil Produksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) dan/atau ayat (2), paling lama 6 (enam) bulan berdasarkan pertimbangan manajemen risiko Kepala Kantor Wilayah atau Kepala KPU;
- tidak memenuhi ketentuan subkontrak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13, paling lama 6 (enam) bulan berdasarkan pertimbangan manajemen risiko Kepala Kantor Wilayah atau Kepala KPU;
- tidak bersedia untuk dilakukan monitoring dan/atau evaluasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1), (2), dan ayat (3);
- tidak menyerahkan dokumen dan/atau data yang diperlukan dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (4);
- tidak memasang papan nama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1);
- tidak melakukan penatausahaan Barang dan Bahan asal fasilitas KITE Pengembalian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2);
- tidak menyerahkan laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3);
- tidak mendayagunakan sistem informasi persediaan berbasis komputer (IT Inventory) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf a;
- tidak mendayagunakan closed circuit television (CCTV) sebagaimana dimaksud dalam Pasal huruf b;
- diduga melakukan tindak pidana di bidang perpajakan, kepabeanan, dan/atau cukai dengan bukti permulaan yang cukup berdasarkan rekomendasi penyidik; dan/atau
- Perusahaan KITE Pengembalian berubah status menjadi Pengusaha Kawasan Berikat atau Pengusaha di Kawasan Berikat dan permohonan izin Kawasan Berikat telah disetujui.
Dalam hal fasilitas KITE Pengembalian dibekukan, atas impor dan/atau pemasukan Barang dan Bahan tidak diberikan fasilitas KITE Pengembalian sejak tanggal pembekuan. Pembekuan tidak menghilangkan hak Perusahaan KITE Pengembalian untuk melakukan kegiatan kepabeanan lain dan kewajiban sebagai Perusahaan KITE Pengembalian.
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PER-09/BC/2022)
|
|
8.
|
Dalam hal apa Fasilitas KITE Pengembalian dapat dicabut?
|
|
|
Fasilitas KITE Pengembalian dicabut dalam hal Perusahaan KITE Pengembalian:
- tidak melakukan kegiatan ekspor Hasil Produksi dengan menggunakan fasilitas KITE Pengembalian:
- dalam waktu 2 (dua) tahun berturut-turut terhitung sejak ekspor fasilitas KITE Pengembalian terakhir, dalam hal tidak terdapat perpanjangan jangka waktu realisasi ekspor; atau
- dalam waktu 3 (tiga) tahun berturut-turut terhitung sejak ekspor fasilitas KITE Pengem balian terakhir, dalam hal terdapat perpanjangan jangka waktu realisasi ekspor.
- tidak mengajukan permohonan dan/atau pemberitahuan perubahan data kepada Kepala Kantor Wilayah atau Kepala KPU dalam waktu paling lambat 60 (enam puluh) hari sejak tanggal fasilitas KITE Pengembalian dibekukan;
- diterbitkan surat paksa karena ada tagihan yang tidak dilunasi;
- terbukti telah melakukan tindak pidana di bidang kepabeanan dan/atau perpajakan berdasarkan putusan pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap;
- berubah status menjadi pengusaha Kawasan Berikat atau pengusaha di Kawasan Berikat, setelah permohonan pengembalian Bea Masuk mendapatkan keputusan Pengembalian Bea Masuk;
- dinyatakan pailit berdasarkan putusan pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap;
- tidak lagi memenuhi kriteria untuk memperoleh fasilitas KITE Pengembalian;
- direkomendasikan untuk dicabut berdasarkan hasil monitoring, evaluasi, dan/atau audit karena tidak memenuhi ketentuan sebagai Perusahaan KITE Pengembalian; dan/atau
- mengajukan permohonan untuk dilakukan pencabutan fasilitas KITE Pengembalian.
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PER-09/BC/2022)
|
|
9.
|
Bagaimana cara pengisian dokumen PIB apabila perusahaan memanfaatkan lebih dari satu jenis fasilitas yaitu KITE Pengembalian dan skema FTA?
|
|
|
Untuk perusahaan yang memanfaatkan lebih dari satu jenis fasilitas maka perusahaan harus menginput kode fasilitas KITE dan skema FTA pada kolom 19 dan pada masing-masing seri barang pada kolom 33.
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PER-09/BC/2022)
|
|
10.
|
Apakah Perusahaan Penerima Fasilitas KITE yang telah dilakukan pencabutan dapat mengajukan lagi?
|
|
|
Dalam hal pencabutan karena perusahaan atau penanggungjawab perusahaan terbukti melakukan tindak pidana yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap atau telah dinyatakan pailit, maka tidak dapat diberikan fasilitas KITE selama 10 (sepuluh) tahun terhitung sejak selesai menjalani hukuman pidana dan/atau [penetapan pailit. Jadi pencabutan selain karena 2 hal di atas, dapat diajukan permohonan penetapan sebagai perusahaa KITE.
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PMK-149/PMK.04/2022)
|
|
11.
|
Apakah SKEP Penetapan Perusahaan KITE ada masa berlakunya?
|
|
|
SKEP Penetapan Penerima Fasilitas KITE berlaku sampai dengan perusahaan tidak lagi memanfaatkan fasilitas KITE ataupun dilakukan pencabutan.
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PMK-149/PMK.04/2022)
|
|
12.
|
Terkait dengan ketentuan baru yaitu kewajiban pemasangan CCTV Perusahaan KITE, apakah ada guidance untuk titik pemasangan atau area mana saja yang diwajibkan?
|
|
|
Pemasangan CCTV Perusahaan KITE diatur pada PER-08/BC/2022 tentang KITE Pembebasan dan PER-09/BC/2022 tentang KITE Pengembalian, dimana kriteria pemasangan CCTV pada lokasi sebagai berikut:
- pintu pemasukan dan pengeluaran barang;
- penyimpanan Bahan Baku; dan
- penyimpanan Hasil Produksi.
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PMK-149/PMK.04/2022)
|
|
13.
|
Apakah perusahaan yang baru berdiri bisa mendapatkan fasilitas KITE?
|
|
|
Pada intinya semua badan usaha industri manufaktur yang hasil produksinya untuk ekspor dapat memanfaatkan fasilitas KITE sepanjang memenuhi ketentuan yang dipersyaratkan dalam PMK-149/PMK.04/2022 untuk KITE Pembebasan dan PMK-145/BC/2022 untuk KITE Pengembalian.
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PMK-149/PMK.04/2022)
|
|
14.
|
Apakah perusahaan dapat memilih Kantor Wilayah atau KPU tertentu sebagai Kantor Wilayah atau KPU penerbit SKEP Penetapan Perusahaan KITE?
|
|
|
Perusahaan tidak dapat memilih Kantor Wilayah atau KPU tertentu. Kantor Wilayah atau KPU penerbit SKEP Penetapan Perusahaan KITE adalah Kantor Wilayah atau KPU di mana lokasi pabrik berada. Jika perusahaan memiliki lebih dari 1 (satu) lokasi pabrik yang tidak berlokasi dalam 1 (satu) Kantor Wilayah atau KPU maka permohonan ditujukan kepada Kantor Wilayah atau KPU terdekat dari lokasi pabrik dengan volume importasi terbesar.
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PMK-149/PMK.04/2022)
|
|
15.
|
Dalam aturan terbaru disebutkan bahwa "tidak ada konversi", maksudnya apakah Perusahaan KITE tidak perlu mendaftarkan/register konversi lagi ke portal kite kedepannya?
|
|
|
Dalam PMK-149/PMK.04/2022 untuk KITE Pembebasan dan PMK-145/BC/2022 untuk KITE Pengembalian, konversi tidak lagi disampaikan sebelum proses produksi, namun konversi saat ini disampaikan secara satu kesatuan dalam laporan pertanggungjawaban (BCL.KT 01) atau permohonan pengembalian (BCL.KT 02).
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PMK-149/PMK.04/2022)
|
|
16.
|
Apakah perusahaan dapat mengimpor dengan memanfaatkan fasilitas KITE untuk semua jenis barang?
|
|
|
Perusahaan hanya dapat mengimpor sesuai dengan Kode HS (Harmonized System) yang tercantum dalam SKEP Penetapan KITE. Jika perusahaan ingin mengimpor dengan menggunakan fasilitas KITE tetapi barangnya belum tercantum dalam SKEP Penetapan, maka perlu diajukan perubahan SKEP terlebih dahulu kepada Kantor Wilayah atau KPU penerbit SKEP Penetapan KITE. Melakukan impor di luar Kode HS yang tercantum dalam SKEP Penetapan KITE mengakibatkan dokumen pabean impor ditolak (reject).
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PMK-149/PMK.04/2022)
|
|
17.
|
Dalam peraturan terbaru, terdapat kewajiban bahwa daftar Barang dan Bahan paling sedikit memuat deskripsi 8 (delapan) digit Harmonized System Code (kode HS), jika dalam SKEP KITE saat ini masih terdapat Barang dan Bahan dengan kode HS 6 digit, apakah perlu mengajukan perubahan SKEP Kembali?
|
|
|
Sesuai dengan Pasal 3 PMK-149/PMK.04/2022 untuk KITE Pembebasan dan Pasal 3 PMK-145/BC/2022, Barang dan Bahan yang terdaftar sebagai bahan baku yang diimpor menggunakan fasilitas KITE harus memuat paling sedikit deskripsi 8 (delapan) digit Harmonized System Code (kode HS). Jika dalam SKEP Perusahaan KITE masih terdapat Barang dan Bahan dengan deskripsi 6 (enam) digit kode HS atau Barang dan Bahan yang belum terdapat di dalam SKEP KITE, maka Perusahaan KITE wajib mengajukan perubahan SKEP KITE ke Kantor Wilayah DJBC melalui SKP.
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PMK-149/PMK.04/2022)
|
|
18.
|
Bagaimana cara pengisian nomor dan tanggal Surat Keputusan Penetapan sebagai Perusahaan KITE pada dokumen PEB?
|
|
|
Nomor dan tanggal Surat Keputusan Penetapan sebagai Perusahaan KITE dapat dituliskan pada kolom NIPER dan lembar lanjutan dokumen pabean.
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PMK-149/PMK.04/2022)
|
|
19.
|
Apakah setelah perusahaan melakukan loading BCL.KT melalui Portal KITE tetap berkewajiban untuk menyerahkan hardcopy? Bagaimana penyerahan surat permohonan pengembalian Perusahaan KITE Pengembalian.
|
|
|
Tidak perlu menyampaikan hardcopy apabila sudah tersedia atau diunggah melalui Portal KITE. Semua dokumen permohonan (berlaku juga untuk surat permohonan pengembalian Bea Masuk) Perusahaan KITE disampaikan melalui Portal KITE. Dasar hukum: Pasal 21 PMK 145/PMK.04/2022 dan Pasal 29 PMK 149/PMK.04/2022
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PMK-149/PMK.04/2022)
|
|
20.
|
Untuk Kapasitas data menggunakan format excel pada BCL.KT KITE maksimal berapa megabyte?
|
|
|
Dalam pengajuan BCLKT melalui Portal KITE Online, tidak ada batasan besaran file laporan pertanggungjawaban atau permohonan pengembalian.
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PMK-149/PMK.04/2022)
|
|
21.
|
Untuk Perusahaan KITE yang melakukan ekspor melalui PLB, apakah berarti sudah dianggap ekspor dan sudah BCLKT?
|
|
|
Untuk ekspor melalui PLB, dapat diajukan dalam laporan pertanggungjawaban dan permohonan pengembalian Bea Masuk dalam hal:
- Hasil Produksi telah dikeluarkan dari Pusat Logistik Berikat ke pelabuhan muat untuk diekspor; dan
- laporan hasil penelitian rekonsiliasi ekspor telah diterbitkan.
Dasar Hukum:Pasal 17 PMK 145/PMK.04/2022 dan Pasal 19 PMK 149/PMK.04/2022
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PMK-149/PMK.04/2022)
|
|
22.
|
Jika bahan baku KITE impornya diberikan oleh buyer secara gratis dan nilai bahan baku tidak dihitung menjadi HPP, sehingga saat diekspor nilai lebih rendah, bagaimana?
|
|
|
Sesuai dengan Pasal 21 PMK 145/PMK.04/2022 dan Pasal 29 PMK 149/PMK.04/2022 terdapat persyaratan dalam BCLKT yang diajukan Perusahaan KITE yaitu terdapat nilai tambah atas Hasil Produksi dengan membandingkan nilai ekspor Hasil Produksi dan nilai impor Barang dan Bahan yang digunakan. Jika tidak terdapat nilai tambah saat penelitian BCLKT oleh Kantor Wilayah DJBC, Perusahaan KITE akan diminta bukti berupa data pendukung yang menunjukkan adanya kondisi yang menyebabkan nilai ekspor lebih kecil dibanding nilai impor.
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PMK-149/PMK.04/2022)
|
|
23.
|
Bagaimana cara untuk mengetahui bahwa atas PEB KITE sudah terbit LHPRE sehingga dapat diajukan BCL.KT?
|
|
|
Dapat dilihat pada Portal KITE melalui menu browse PEB.
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PMK-149/PMK.04/2022)
|
|
24.
|
Apakah skema VD/VP (Voluntary Declaration/Voluntary Payment) bisa dipakai jika barang import dengan fasilitas KITE, ternyata digunakan untuk produksi pasar domestik jika memang pasar ekspor turun/buyer menurunkan quantity order-nya? Dibandingkan jika harus dimusnahkan atau diekspor kembali.
|
|
|
Tidak bisa. VD/VP dapat digunakan dalam hal terdapat insiatif dari Perusahaan KITE untuk penambahan nilai transaksi, perubahan nilai pabean dan tarif (klasifikasi) dan juga dapat dilakukan inisatif secara terbatas untuk perubahan jumlah impor barang dan bahan. Namun dalam VD/VP tidak diatur untuk inisaitif perubahan tujuan fasilitas.
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PMK-149/PMK.04/2022)
|
|
25.
|
Apakah pemegang KITE Pengembalian saat ini dapat memperoleh SKEP KITE Pembebasan?
Bila dibolehkan, apa produk olahan KITE Pengembalian menjadi KITE Pembebasan bisa dijual ke pemegang KITE Pembebasan lainnya?
|
|
|
Perusahaan KITE Pengembalian dapat mengajukan sebagai penerima fasilitas KITE Pembebasan dengan mengajukan ulang permohonan izin untuk penetapan sebagai Perusahaan KITE Pembebasan ke Kantor Wilayah DJBC.
Untuk impor/pemasukan yang menggunakan fasilitas KITE Pengembalian harus diselesaikan dengan ekspor ke Luar Daerah pabean atau melalui PLB dan dimintakan pengembalian dengan permohonan pengembalian Bea Masuk (BCL.KT 02), tidak bisa dlakukan penyelesaian menggunakan laporan pertanggungjawaban (BCL.KT 01).
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PMK-149/PMK.04/2022)
|
|
26.
|
Apakah peraturan KITE saat ini mengatur mengenai lartas untuk perusahaan KITE?
|
|
|
Peraturan KITE tidak mengatur mengenai lartas, ketentuan lartas mengikuti peraturan Kementerian Perdagangan.
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PMK-149/PMK.04/2022)
|
|
27.
|
Apa yang bisa dilakukan perusahaan jika terdapat kondisi yang menyebabkan perusahaan tidak bisa menyampaikan pertanggungjawaban?
Contoh: PEB diisi dengan kategori umum (bukan “yang pada saat impor mendapatkan fasilitas") atau Tidak mencantumkan SKEP pada Dokumen PEB
|
|
|
Perusahaan KITE dapat menggunakan tools monitoring mandiri sesuai dengan PER-02/BC/2019 tentang Monitoring dan Evaluasi Fasilitas TPB dan KITE. Namun, pada dasarnya Perusahaan KITE tidak akan mendapatkan fasilitas KITE atas Barang dan Bahan yang diolah, dirakit, dipasang yang kemudian diekspor tetapi tidak sesuai dengan ketentuan pemberian fasilitas KITE.
(Sesuai dengan PMK-145/PMK.04/2022 & PMK-149/PMK.04/2022)
|
|